Jika kita tidak mengejar, maka kita akan ketinggalan

Sampaikan itu pada semua orang, yang memang berkewajiban untuk terus belajar... Dokter...!!!

Guru, Profesi yang Paling Mulia, di Seluruh Dunia dan Jagad Raya.

Menjadi guru adalah kerinduan saya sejak lama. Mengapa saya mau menjadi guru? Berikut adalah alasannya. (Saya berpikir keras untuk merangkai kata-kata yang paling mewakili perasaan, kerinduan, dan motivasi saya untuk menjadi guru)

  1. Menjadi guru adalah ungkapan syukur atas karunia Yang Maha Kuasa atas kehidupan dan otak saya. Bukan kah hidup itu ibadah? 
  2. Menjadi guru adalah kesempatan bagi saya untuk bisa berguna bagi dunia. Bukan berarti profesi lain tidak berguna, tetapi bagi saya dengan menjadi seorang guru adalah cara untuk mencapai tujuan hidup saya.
  3. Menjadi guru akan membuat saya belajar terus. Belajar tidak hany akan keilmuan saja tetapi belajar arti hidup yang sebenarnya. 
  4. Dengan menjadi guru maka saya harus bisa melihat orang apa adanya. Menghormati orang siapapun dia, apapun latar belakangnya. Orang yang dititipkan bagi saya (murid) adalah tanggung jawab saya untuk mengusahakan mereka meraih yang terbaik dalam hidupnya. Saya harus Bersikap adil dan bijaksana. Mengakui kelebihan orang lain, memperbaiki kekurangan orang lain dengan terlebih dahulu bercermin mencari dan memperbaiki kekurangan saya sendiri. 
  5. Guru adalah contoh.. Guru adalah panutan, karena didunia ini manusia mencari kebenaran (duniawi) kepada seorang guru. Bagi saya ini tantangan. Saya tidak mau menjadi orang sombong, karena tahu banyak hal. Menyepelekan orang lain. TEtapi seorang guru akan selalu mengevaluasi diri dan hidupnya apakah dia layak untuk menjadi panutan bagi murid-muridnya. Logikanya, bagi saya, seorang guru HARUS RENDAH HATI, karena untuk menjadi panutan kebenaran secara manusia dia tidak mampu, tetapi akan dimampukan bila dia berserah kepada SANG EMPUNYA SEGALANYA. Seorang guru akan serta-merta setiap saat berusaha berada dalam koridor "kebenaran". Memperlengkapi diri dengan senjata "kebenaran" (baca: belajar), menerapkan apa yang diap pelajari, dan yang lebih penting (ini yang membuat saya terpana sesaat saat berpikir...) GURU AKAN MENERUSKAN ILMUNYA KEPADA ORANG LAIN, DAN AKAN MERASA BAHAGIA JIKA MURIDNYA BERHASIL, SEBALIKNYA MERASA SEDIH DAN SUSAH BILA MURIDNYA GAGAL, ATAU BODOH.

Mungkin kata-kata saya di atas belum bisa menggambarkan secara sepenuhnya motivasi saya menjadi seorang guru. Setidaknya inilah yang mau saya capai kelak seandainya saya jadi guru. Sekali lagi, BAGI SAYA (MENURUT PENDAPAT SAYA) GURU ADALAH PROFESI YANG PALING MULIA DI DUNIA*. Bagi saya menjadi seorang guru bukanlah tujuan akhir hidup saya tetapi sarana untuk terus belajar dan beribadah kepada Tuhan saya.Untuk itu, berharap untuk dihormati dan aktualisasi bukanlah tujuan saya. Tidaklah tepat bagi seseorang menjadi guru supaya dihormati orang lain Karena tidak logis bila ibadah dipakai untuk kemuliaan diri.

Saya berharap justru dengan saya menjadi seorang guru, maka nama Tuhanlah yang dipermuliakan, BUKAN SAYA... (So help me GOD, and make my dream come true...)

* bayangkan, jika tidak ada guru, maka mustahil seseorang menjadi terpelajar. Jika tidak ada guru, tidak akan ada dokter, insinyur, pengacara, pengusaha, dll.

Eh... Tiba-tiba sebuah ide muncul:

BAYANGAN SAYA: Sebuah Center Pendidikan, Penelitian, Pengembangan, dan Pelayanan Neurologi terdiri dari Bidang Sub Spesialisasi sebagai berikut

  1. Neurovaskuler
  2. Nyeri
  3. Nyeri Kepala
  4. Neuroinfeksi
  5. Neuropatologi
  6. Neuroimaging
  7. Neurointervensi
  8. Neurotraumatologi
  9. Neuroemergensi
  10. Neurointensif
  11. Epilepsi
  12. Gangguan Gerak
  13. Neurofisiologi Klinis
  14. Neuromuskuler
  15. Neuropediatri & Neurologi Perkembangan
  16. Neurogenetika
  17. Neurobehavior (Neuropsikologi)
  18. Neurogeriatri
  19. Neurofarmakologi dan Neurotoksikologi
  20. Gangguan Tidur
  21. Neurologi Sosial dan Komunitas (termasuk neuroepidemiologi)
  22. Neurooftalmologi
  23. Neurootologi
  24. Neurorestorasi
  25. Neurorehabilitasi

Banyak memang. Tapi inilah MIMPI saya. Sebuah institusi pusat pendidikan dan pengembangan Ilmu Penyakit Saraf yang ideal di negeri tercinta ini. PRnya banyak memang, tapi dengan adanya ahli dari semua bidang ini, maka misteri Penyakit Saraf akan dapat diungkapkan, tentunya dengan kerjasama dan saling menghormati. Semoga suatu saat mimpi ini menjadi kenyataan.


Update 04 Jan 09

Bidang "baru tapi lama" NEUROLOGI TROPIK (TROPICAL NEUROLOGY). ada textbooknya.

Negara kawasan tropik seharusnya mempelajari lebih jauh tentang pengaruh penyakit-penyakit tropik terhadap fungsi sistem saraf. Kalau penyakit dalam sudah memperluas bidang Infeksi dengan ilmu kedokteran tropik, why not NEUROINFEKSI ditambah cakupannya dengan NEUROLOGI TROPIK.

PS: Neurology is my first love, and always will. Jika anda mencari seorang pejuang neurologi, maka saya lah salah satunya.....!!! Hehehehehe.

Selanjutnya akan saya jabarkan definisi dan cakupan dari ke 26 sub bidang Neurologi, tetapi sabar ya... bahan-bahan sedang dikumpulkan.

Usulan Langkah Awal Memajukan Ilmu Penyakit Saraf

1. Memperkenalkan Pengertian Ilmu Penyakit Saraf yang benar dan Cakupannya kepada Masyarakat Luas

Ilmu penyakit saraf (Neurologi) sampai saat ini menurut saya belum dikenal dengan benar di kalangan masyarakat awal. Sering sekali kita bisa menemukan bahwa Neurologi dianggap sama dengan Psikiatri. Mungkin awalnya dari kata saraf, yang di kebudayaan tertentu diartikan sakit jiwa, atau gila. Akhirnya Ilmu Penyakit Saraf dianggap sebuah ilmu yang berurusan dengan orang-orang sakit jiwa atau gila. Kenyataannya, hal ini tidak sepenuhnya benar. Ilmu Penyakit Saraf adalah bagian dari ilmu kedokteran yang berurusan dengan kelainan atau gangguan yang terjadi pada sistem saraf manusia, yang terdiri dari otak, batang otak, sumsum tulang belakang (medula spinalis), dan saraf tepi, serta struktur/jaringan-jaringan penunjang di sekitarnya yang mempengaruhi normal/abnormalnya fungsi dari sistem saraf itu. 

2. Melakukan Penelitian-Penelitian Epidemiologis Sederhana Tentang Penyakit-Penyakit Neurologi di Indonesia

Indonesia miskin data. Meski untuk data sebaran penyakit saja kita sering merujuk kepada kepustakaan luar negeri. Padahal situasi di sana belum tentu sama dengan negara kita, dan sangat mungkin data yang ditemukan di sana berbeda dengan kenyataan di negeri tercinta ini. Perlu dilakukan pendataan sebaran penyakit-penyakit neurologi supaya ada gambaran tentang problem kesehatan khusunya kesehatan saraf di Indonesia. Dengan adanya data ini kita bisa menentukan fokus perhatian dalam manajemen komprehensif permasalahan kesehatan tersebut.

3. Melakukan Edukasi kepada Masyarakat tentang pentingnya penanganan cepat dan pencegahan penyakit-penyakit neurologis

Kebanyakan penyakit neurologis akan berakibat disabilitas, terutama jangka panjang. Sering kali disabilitas ini dapat diminimalkan jika penanganan penyakitnya dilakukan sesegera mungkin. Selain memperkenalkan cakupan penyakit-penyakit neurologis pada masyarakat, maka perlu juga dimotivasi agar setiap menemukan penyakit neurologis hendaknya ditangani sesegera mungkin.

4. Pendidikan Profesi dalam rangka peningkatan mutu pelayanan

Ilmu Penyakit Saraf, termasuk salah satu cabang ilmu kedokteran yang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Akan ada perubahan setiap saat terhadap paradigma, konsep, serta manajemem setiap penyakit saraf. Para dokter khususnya ahli penyakit saraf perlu memperlengkapi diri dengan ilmu dan keahlian agar dapat memberi pelayanan yang benar dan bermutu kepada masyarakat. Tentunya ini bisa difasilitasi oleh organisasi profesi terkait, sentra pendidikan dan organisasi-organisasi swasta yang bergerak dalam bidang ilmu penyakit saraf. Jika kesempatan untuk berkaris di Organisasi profesi resmi, dan Fakultas Kedokteran terbatas, maka ayo... bikinlah organisasi baru. Hehehehe.... (curhat....)

Make a Free Website with Yola.