PENDAHULUAN
Susunan Saraf Pusat (SSP) dan perifer dapat mengalami gangguan/kerusakan
pada fase awal maupun lanjut akibat infeksi HIV. Susunan saraf perifer
merupakan bagian dari sistem saraf yang paling sering mengalami kerusakan pada
individu yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Komplikasi
pada sistem saraf dialami pasien yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus
tipe 1/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV-1)/AIDS dalam proporsi
yang signifikan1. Sebelum
era HAART (Highly Active Anti-Retroviral Therapi) infeksi HIV/AIDS
merupakan penyakit dengan perjalanan progresif dan fatal. Penemuan HAART
menyebabkan adanya kemungkinan untuk memperlambat progresivitas penyakit dan
mengurangi terjadinya demensia HIV serta infeksi oportunistik. Bertambahnya
angka survival setelah era
penemuan HAART menimbulkan kejadian komplikasi saraf perifer yang semakin
tinggi pula2,3,4.
Penyebab neuropati HIV-1 belum diketahui dengan pasti, meski saat ini
sejumlah mekanisme putatif telah diajukan melalui berbagai penelitian.
Mekanisme yang dimaksud adalah dugaan akan adanya mekanisme imun direk dan
indirek maupun efek toksik dari
pengobatan terhadap HIV-1 itu sendiri4
Polineuropati sensorik distal, terutama mengenai serabut saraf kecil, dalam
bentuk Distal Sensory Polyneuropathy (DSP) merupakan bentuk neuropati
perifer tersering pada infeksi HIV. Bentuk ini terjadi pada kira-kira 90%
pasien HIV dengan neuropati. DSP dapat juga terjadi bersamaan dengan bentuk
gangguan neurologis terkait HIV-1 lainnya seperti mielopati dan demensia. Meski
kondisi ini tidak membahayakan nyawa, tetapi secara bermakna dapat mempengaruhi
kualitas hidup pasien1.
DSP dapat terjadi terutama pada individu dengan derajat imunosupresi lanjut
dan dapat diperberat oleh obat golongan dideoxy-nucleoside reverse
transcriptase inhibitor (NRTI), salah satu kelas dari terapi obat
antiretroviral (ART), yaitu Zalcitabine (ddC), Stavudine (d4T), Didanosine
(ddI), dan Lamivudin (3TC). Bentuk ini dikenal sebagai Antiretrovital Toxic
Neuropathy (ATN) atau Nucleoside Neuropathy (NN)2,5,6.
Dilaporkan bahwa sekitar 35-63% pasien dengan HIV positif mengalami
komplikasi sistem saraf, baik pusat maupun perifer. Neuropati perifer merupakan
bentuk komplikasi neurologis tersering dari infeksi HIV-11,6,7.
Cherry et al.1 melaporkan bahwa sekitar 30-50% infeksi HIV-1
mengalami neuropati perifer, bahkan pada otopsi orang yang meninggal dengan
AIDS terdapat bukti kelainan saraf perifer sampai mendekati 100%. Imran et
al.8 melakukan penelitian di RSCM Jakarta terhadap 72 pasien
dengan infeksi HIV dengan usia antara 21-45 tahun. Diperoleh bukti adanya DSP
secara klinis maupun elektrodiagnostik terjadi pada 20,8% pasien. Kondisi ini
berhubungan signifikan dengan angka CD4 rendah (p=0,002).
PATOFISIOLOGI
Saraf tepi terdiri dari inti yang aktif secara elektrik, atau akson, dan
lapisan selubung eksternal dikenal sebagai mielin. Integritas aksonal penting
untuk fungsi saraf tepi dalam pembentukan potensial aksi sepanjang membran
saraf sensorik maupun motorik. Kerusakan akson pada titik manapun akan
menghambat transmisi impuls. Mielin juga sangat penting pada transmisi impuls
karena berkaitan dengan kecepatan penghantaran impuls melalui saltatory
conduction. Demielinasi mengganggu proses ini, menyebabkan perambatan
kecepatan transmisi impuls. Demielinasi fokal dapat menyebabkan kebocoran arus
aksonal yang mengganggu pembentukan potensial aksi pada titik tertentu di
sepanjang serabut saraf, menyebabkan blok konduksi9.
Aktivasi
makrofag
Telah diuraikan sebelumnya bahwa makrofag memegang peranan penting pada
patogenesis DSP. Infeksi HIV-1 menyebabkan sejumlah abnormalitas pada innate
immune system. Makrofag merupakan salah satu dari sejumlah sel yang dapat
berperan sebagai Antigen Presenting Cell pada innate immune
system. Infeksi HIV-1 akan
menyebabkan upregulation produksi Nitrous Oxide (NO) dan
perubahan pada fungsi makrofag. Penyebab pasti dari aktivasi makrofag
sebenarnya belum diketahui pasti. Terdapat 2 hipotesis yang menjelaskan hal
ini. Teori pertama menjelaskan terjadinya degenerasi aksonal distal yang ringan
akibat defisiensi nutrisi, paparan alkohol, penyalahgunaan obat atau faktor
nonspesifik lainnya. Kerusakan aksonal dalam bentuk degenerasi Wallerian ini
akan mengakibatkan rekrutmen makrofag ke lokasi kerusakan. Meski demikian, pada
infeksi HIV-1 ditemukan kondisi hiperaktivitas dari makrofag dan selanjutnya
menyebabkan inflamasi multifokal di serabut saraf dan Dorsal Root Ganglia (DRG).
Teori kedua menyatakan monosit teraktivasi yang bersirkulasi dan sitokin
proinflamatorik memasuki ganglion radiks dorsalis dan serabut saraf tepi dalam
jumlah yang berlebihan melalui kebocoran blood-nerve barrier.
Selanjutnya sel-sel ini akan menimbulkan reaksi inflamasi lebih lanjut melalui
pelepasan sitokin dan kemokin diikuti kerusakan aksonal dan DRG. Teori ketiga
menyatakan pelepasan protein viral HIV-1 yang neurotoksik (gp120 dan Tat) dari
makrofag memegang peranan penting terjadinya degenerasi aksonal bentuk dying
back9.
Infeksi HIV-1 akan menyebabkan aktivasi makrofag di DRG dan saraf perifer.
Replikasi virus hanya sedikit ditemukan pada kedua jaringan ini karena
berlangsung terutama di makrofag dan monosit. HIV-1 terutama berada di sel-sel
inflamatorik perivaskuler dan nodul Nageotte. Replikasi HIV-1 yang jarang di
jaringan saraf dan aktivasi makrofag yang tinggi merupakan situasi yang mirip
dengan kondisi pada demensia dan mielopati HIV. Dalam kondisi normal sel T akan
melepaskan sitokin seperti IL-4 dan IL-10 untuk melawan makrofag teraktivasi
yang direkrut ke saraf perifer yang mengalami kerusakan, tetapi pada infeksi
HIV-1 respon ini tidak adekuat. Hal ini mengakibatkan meningkatnya kadar TNF-α
dan metabolitnya, asam quinolinic dan oksida nitrit, yang telah diketahui
bersifat toksik terhadap jaringan saraf dan menyebabkan degenerasi aksonal10.
Fakta yang berkaitan dengan patogenesis DSP pada model binatang adalah
sebagai perikut:
1.
Infeksi HIV langsung di saraf perifer tidak
terjadi, analog dengan mekanisme yang terjadi pada AIDS Dementia Complex (ADC).
Tidak ditemukan adanya partikel virus (antigen) di jaringan saraf.
2.
Aktivasi imun lokal berhubungan dengan neuropati
perifer (analog dengan ADC). HIV dapat diisolasi dari makrofag perivaskuler
pada sekitar 50% pasien, tetapi semua pasien menunjukkan tanda aktivasi
makrofag yang jelas disertai pelepasan sitokin proinflamatorik termasuk Il-6 dan molekul adhesi seperti ICAM-1 terutama
di sekitar DRG.
3.
Aktivasi lokal sistem imun ini
disebabkan oleh HIV. Glikoprotein membran gp120 terikat pada neuron sensorik
dengan menghasilkan inflamasi dan induksi nyeri. Terdapat infiltrat mononuklear
inflamatorik (sel T dan makrofag) di daerah epineural atau perivaskuler
endoneural. Hal ini terjadi karena infeksi HIV pada makrofag tidak bersifat
sitopatik seperti pada sel T dan menyebabkan infeksi kronik persisten yang
kurang berespon terhadap terapi ARV2.
Peranan
Glikoprotein gp120 dan Reseptor Kemokin
Penelitian telah membuktikan bahwa glikoprotein gp120 dari membran HIV-1
dalam bentuk monomer solubel maupun dalam virion utuh mampu menimbulkan
neurotoksisitas melalui ligasi dengan reseptor kemokin tanpa infeksi langsung
virus ke dalam neuron. Reseptor kemokin termasuk CXCR4 dan CCR5, koreseptor
untuk gp120, diekspresikan pada kultur neuron DRG tikus dan makrofag. CXCR4
juga diekspresikan oleh sel T dan sel schwann. Glikoprotein gp120 mampu
mengeksitasi neuron DRG dengan memobilisasi ion kalsium dan menurunkan ambang
rangsang pembentukan potensial aksi. Glikoprotein gp120 juga mampu menyebabkan
neurotoksisitas langsung. Kerusakan saraf inisial diperkirakan akibat induksi
dari gp120 yang berikatan dengan mielin atau defek metabolik2.
Mekanisme neurotoksisitas indirek yang melibatkan sel glia terutama melalui
aktivasi reseptor kemokin di makrofag. Ikatan gp120 dengan reseptor CXCR4 di
makrofag akan membuka kanal Calcium-activated potassium (KCa),
klorida, dan kalsium. Masuknya ion melalui kanal spesifik akan menginduksi
sekresi produk makrofag berupa sitokin proinflamatorik menyebabkan toksisitas
neuron11.
Paparan gp120 terhadap neuron memicu neurotoksisitas dengan menyebabkan
kerusakan mitokondria akibat depolarisasi membran, degenerasi neural, pelepasan
sitokrom C mitokondrial neuronal, dan fragmentasi DNA nuklear bergantung
kaspase-3. Proses ini diawali interaksi gp120 terhadap CXCR4 di sel scwann
dengan menghasilkan kemokin beta dan
RANTES (Regulated on Activation, Normal T cells Expressed and Secreted).
RANTES akan berikatan dengan reseptor kemokin CCR5 di neuron dan menginduksi upregulation
TNFα. Upregulation TNFα menghasilkan proses kematian neuron sensorik
melalui apoptosis. Degenerasi aksonal secara parsial dihambat oleh inhibitor
kaspase dan berpotensi sebagai terapi di masa mendatang12,13.
Sel schwann perineuronal melalui ikatannya dengan gp120 bertanggung jawab
terhadap kematian apoptotik neuron; degenerasi aksonal terjadi sekunder
terhadap kematian neuron. Fenomena berbeda akan ditemukan jika gp120 langsung
dipaparkan pada akson. Glikoprotein gp120 akan berikatan dengan reseptor
kemokin aksonal menginduksi degenerasi, tetapi dapat dicegah dengan manipulasi
pada reseptor kemokin itu sendiri. Sel schwan tidak bertindak sebagai mediator
toksisitas aksonal direk sebaliknya berpotensi memberi efek neuroprotektif
parsial14.
Antiretroviral Toxic Neuropathy(ATN)
Perubahan mitokondria yang prominen terlihat sehubungan dengan penggunaan
NRTI, dan diperkirakan mendasari terjadinya neuropati akibat terapi ARV.
Mitokondria mengandung enzim DNA polimerase yang esensial dalam pembentukan DNA
mitokondria. Mekanisme kerja NRTI terhadap HIV adalah menghambat enzim reverse
transcriptase, enzim yang berperan sebagai DNA polimerase viral. NRTI dalam
aksinya juga dapat menghambat enzim polimerase DNA, mengakibatkan gangguan
pembentukan rantai DNA mitokondria yang berperan penting pada proses
fosforilasi oksidatif. Akibatnya terjadi deplesi energi yang dibutuhkan
jaringan15. Hal ini didukung bukti peningkatan konsentrasi asam
laktat serum dan penurunan asetilkarnitin13. Asam laktat meningkat
pada disfungsi mitokondria16.
Asetilkarnitin merupakan terapi ATN yang menjanjikan untuk masa depan1,17.
Induksi apoptosis pada DSP tidak terjadi pada toksisitas NRTI. Toksisitas NRTI
mengakibatkan kematian sel dan degenerasi aksonal nonapoptotik di DRG. ATN/NN
diakibatkan toksisitas mitokondria akibat inhibisi DNA polimerase-γ
mitokondrial. Beberapa pendapat berbeda dapat ditemukan terkait mekanisme ATN.
Zidovudine merupakan inhibitor poten DNA polimerase-γ mitokondrial tetapi tidak
menimbulkan neuropati pada pasien HIV18.
Mitokondria penting bagi
sel karena merupakan tempat produksi energi dalam bentuk ATP. Miitokondria
memiliki DNA sendiri dimana pembentukannya terjadi dengan adanya enzim
polimerase DNA. DNA mitokondria sendiri akan menghasilkan protein mitokondrial
melalui proses transkripsi yang berperan pada proses fosforilasi oksidatif
untuk membentuk ATP. NRTI akan merusak enzim polimerase DNA sehingga DNA
mitokondria akan berkurang, sejalan dengan itu protein mitokondrial akan
berkurang sehingga energi yang terbentuk juga akan berkurang. Akibat
berkurangnya energi maka sel akan mengubah piruvat menjadi laktat, suatu proses
oksidasi yang menghasilkan energi lebih sedikit dengan produk asam laktat yang
dapat pula menyebabkan kerusakan jaringan19.
Pendapat lain mengatakan paparan NRTI berhubungan dengan inhibisi potensial
transmembran mitokondrial. Hal ini mengakibatkan kegagalan energi diikuti
degenerasi aksonal dan kematian neuron nonapoptotik. Efek ini tidak dapat
dicegah oleh inhibitor kaspase spesifik, seperti pada proses apoptosis, yang
menunjukkan bahwa proses apoptosis tidak terjadi pada ATN/NN. Masih diperlukan
penelitian lebih lanjut untuk mendukung pendapat ini13. Mekanisme
yang mendasari DSP dan ATN/NN dapat dilihat pada gambar 5.
Menurut Walker & Brinkman20 gangguan metabolisme
mitokondrial sekunder terhadap pengurangan jumlah mitokondria neuron
diperkirakan menjadi penyebab ATN. Neuron tidak dapat mempertahankan kebutuhan
metabolisme akson perifer sehingga terjadi die back. Hal ini
mengakibatkan DSP tipe stocking and gloves. Inervasi epidermal mengalami
pengurangan pada ATN demikian juga di dermis dan kelenjar keringat.
Abnormalitas pada kelenjar keringat menerangkan terjadinya neuropati otonom,
dengan gejala klinis keringat di malam hari, yang umum ditemukan pada pasien
dengan infeksi HIV.

Stadium Neuropati HIV
Stadium I: kerusakan saraf
perifer indirek akibat kemokin melalui induksi gp120 atau gangguan metabolik.
Kerusakan saraf perifer dapat berupa apoptosis (DSP) atau nekrosis (NN).
Stadium II: aktivasi imun merupakan konsekuensi kerusakan saraf dengan
rekrutmen sel inflamatorik yang sebagian terinfeksi HIV. Stadium 3: aktivasi
sistem imun persisten akibat replikasi virus dan disregulasi imun. Stadium 4:
Gangguan regenerasi akibat aktivasi sistem imun yang persisten. Mekanisme
gangguan regrnerasi diperkirakan akibat gangguan Nerve Growth Factor oleh aktivasi sistem imun2.
Patofisiologi
Nyeri pada Neuropati Sensorik HIV
Degenerasi traktus gracilis rostral dan akson sensorik distal menunjukkan
kemungkinan proses patologis primer DSP terjadi pada level DRG. Nyeri bukanlah
gambaran satu-satunya dari DSP karena gangguan vibrasi dan numbness juga
sering ditemukan. Hal ini menunjukkan berbagai populasi neuronal juga terkena.
Diduga respon inflamatorik terjadi di DRG yang mengalami gangguan diikuti
degenerasi neuronal bentuk dying back. Proses ini belum menerangkan
mengapa pada DSP nyeri merupakan gambaran utama DSP2.
Dua teori menjelaskan mekanisme nyeri pada DSP dimana inflamasi terjadi di
DRG. Teori pertama menduga nyeri terjadi akibat aktivitas spontan serabut C
(nosiseptif/nyeri) setelah kerusakan serabut sekitarnya. Makrofag akan
melepaskan sitokin proinflamatorik yang mensensitisasi serabut saraf. TNF-α di
DRG meningkat pada aktivasi makrofag ini. Model binatang yang diberi injeksi
TNF-α pada saraf skiatik menunjukkan sensitisasi dan menghasilkan nyeri. Teori
kedua disebut juga hipotesis sentral menyatakan terjadi perubahan kanal ion
natrium dan kalsium di DRG sehingga menghasilkan respon abnormal berupa nyeri
setelah kerusakan serabut saraf perifer. Remodeling sentral di kornu dorsalis
diperkirakan memainkan peranan penting dalam proses nyeri neuropatik. Beberapa
penelitian telah menunjukkan bahwa kerusakan saraf perifer menyebabkan
serangkaian sprouting serabut A
di sentral terminal dan pembentukan kontak sinaptik baru di luar zona
terminalnya ke lamina II kornu dorsalis, area yang secara normal menerima input
nosiseptif dari serabut tak bermielin. Plastisitas dan organisasi serabut ini
kemungkinan dimodulasi oleh beberapa faktor, termasuk induksi growth factor,
reseptor growth factor, dan sitokin. Paparan glikoprotein gp120 pada
saraf skiatik maupun injeksi intratekal juga menginduksi nyeri, seperti temuan
pada percobaan binatang. Neuron DRG mengekspresikan reseptor kemokin, termasuk
CXCR4 dan CCR5, yang merupakan koreseptor penting protein membran HIV21.
Glikoprotein gp120 juga menimbulkan efek eksitatorik pada neuron nosiseptor DRG
dan memicu pelepasan substansi P. Makrofag terinfeksi HIV banyak terdapat pada
DRG pasien dengan DSP. Sel ini mampu mempertahankan paparan gp120 dalam bentuk
partikel solubel maupun virion lengkap karena berperan sebagai reservoir
pada infeksi HIV. Akibatnya selama infeksi HIV berlangsung, gp120 dalam kadar
signifikan akan ditemukan pada DRG5.

GAMBARAN
KLINIS
DSP mungkin tidak bergejala pada fase awal penyakit. Gambaran asimtomatik
sering ditemukan saat gejala sensorik positif seperti disestesia atau
parestesia belum bermanifestasi, atau gejala yang dialami murni motorik22.
DSP merupakan neuropati sensorik aksonal dengan gejala terutama mengenai jari
kaki dan telapak kaki. Jari tangan dan tangan juga dapat terlibat dengan
berjalannya waktu. Gejala utama DSP adalah nyeri dan rasa tebal-tebal pada
kedua kaki. Gejala mengikuti pola distribusi “stocking-glove”, yaitu
dimulai dari distal dan bergerak proksimal sesuai dengan perkembangan penyakit,
biasanya dalam beberapa bulan, dan keterlibatan ujung jari tangan biasanya
bersamaan saat proses terjadinya gejala sudah mencapai pertengahan tungkai.
Pasien biasanya merasakan kesemutan dan panas di kaki yang diperberat dengan
sentuhan atau tekanan. Pasien menghindari pemakaian kaus kaki atau sepatu, dan
pada kasus berat mungkin disertai ketidakmampuan untuk berjalan atau berdiri,
dan terjadi antalgic gait. Pasien sering mengalami hiperalgesia
(menurunnya ambang nyeri) dan alodinia (nyeri dipicu oleh rangsang
non-noksius). Gejala ini biasanya dirasakan memberat pada malam hari9,23. Gangguan motorik berupa defisit subjektif dan
objektif biasanya minimal dan umumnya melibatkan otot intrinsik kaki24,25.
Pemeriksaan fisik menunjukkan penurunan atau tidak adanya refleks akhiles
relatif terhadap refleks tendo lutut pada 96 – 100% kasus26.
Progresifitas penyakit HIV dapat mengaburkan temuan pemeriksaan fisik pada
tahap ini. Apabila proses penyakit bersamaan dengan kerusakan di susunan saraf
pusat maka mungkin saja ditemukan peningkatan refleks pada lutut dan normal
pada achiles. Temuan lain dapat berupa meningkatnya ambang rangsang vibrasi dan
penurunan sensasi suhu dan tusukan. Kekuatan otot dan sensasi posisi sendi
relatif normal. Tidak ditemukan adanya fasikulasi25,27,28.
DIAGNOSIS
Diagnosis DSP terutama berdasarkan gambaran klinis, berupa parestesia akral
dan nyeri spontan atau dibangunkan. Definisi operasional untuk DSP dan NN dapat
dilihat pada tabel 1.
Tabel 1.
Batasan Kasus DSP dan NN 5,28
|
DSP
Harus
memenuhi semua gambaran berikut:
1. Gejala sensorik distal simetris: parestesia, disestesia, nyeri spontan
atau dibangunkan
2. Tanda sensorik abnormal: peningkatan ambang rangsang vibrasi, atau
sentuhan, atau tusukan jarum
3. Penurunan refleks Achiles
Konfirmasi
opsional:
Densitas
epidermal abnormal (<5 serabut/mm pada distal kaki) atau pemeriksaan Quantitative
Sensory Testing abnormal pada
vibrasi atau termal
|
|
NN
Terjadinya
gambaran seperti di atas pada saat pasien menjalani terapi dengan NRTI (ddI,
ddC, atau d4T)
|
Quantitative
Sensory Testing
Ambang rangsang untuk sensasi hangat dan dingin di kaki merupakan tes
diagnostik yang paling sering abnormal dan dapat dideteksi meski pemeriksaan
kecepatan hantar saraf normal. Ambang rangsang vibrasi yang menurun dapat
merupakan petanda awal adanya neuropati meski belum menunjukkan gejala klinis
yang jelas29.
Zhou et al.30 melakukan penelitian terhadap 101
pasien infeksi HIV dewasa. Penelitian ini menunjukkan ambang rangsang dingin
dan vibrasi pada ibu jari kaki berkorelasi negatif dengan densitas saraf
epidermal. Artinya ambang rangsang untuk sensasi dingin dan vibrasi akan
meningkat sejalan dengan berkurangnya densitas serabut saraf di epidermis.
Pemeriksaan
Elektrodiagnostik
Pemeriksaan elektrodiagnostik merupakan pemeriksaan yang sensitif dan
spesifik serta tervalidasi dalam mengukur terjadinya polineuropati. Evaluasi
elektrodiagnostik mencakup pemeriksaan Kecepatan Hantar Saraf dan
elektromiografi jarum. KHS merupakan bagian dari pemeriksaan elektrodiagnostik
yang paling informatif dalam kondisi polineuropati dan dipertimbangkan sebagai
bagian integral dari pemeriksaan polineuropati22.
Diagnosis yang mengarah ke bentuk Neuropati Nukleosida (NN) dapat
dikonfirmasi dengan penghentian obat antiretroviral yang potensial menyebabkan
kerusakan saraf tepi. Pemeriksaan elektrofisiologi mungkin menunjukkan
polineuropati sensorik tipe aksonal yang length dependent, tetapi pada
fase awal penyakit sering menunjukkan temuan normal pada sekitar 20% kasus2,5,28.
Biopsi
Kulit
Biopsi kulit dengan teknik Punch Skin Biopsies telah digunakan untuk
mengidentifikasi penurunan densitas serabut saraf tak bermielin pada neuropati
sensorik HIV. Secara umum pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya small
fiber neuropathy, yang biasa terjadi pada neuropati akibat penyakit
metabolik (diabetes, hiperlipidemia), kondisi terkait imun (sarkoidosis,
sindroma sjogren), toksisitas obat (antiretroviral, antineoplasma), dan infeksi
viral (HIV). Small Fiber Neuropathy merupakan kelainan degeneratif serabut Aδ31.
Penurunan densitas serabut saraf pada pasien dengan gejala sesuai dengan small
fiber neuropathy tanpa penyebab yang jelas (dugaan non-organik) atau gejala
lebih prominen dari tanda pemeriksaan fisik merupakan petanda diagnostik yang
penting pada neuropati sensorik HIV32. Herrmann et al.33
menemukan bahwa pada pasien dengan potensial aksi saraf suralis normal,
34,7% diantaranya mengalami penurunan densitas saraf yang ditunjukkan melalui
biopsi kulit. Polydefkis et al.32 menemukan bahwa penurunan
densitas serabut saraf intraepidermal berhubungan dengan meningkatnya nyeri
neuropatik, menurunnya angka CD4, dan peningkatan viral load plasma pada neuropati sensorik HIV.
Pemeriksaan Cairan Serebrospinal
Abnormalitas cairan serebrospinal umum ditemukan pada pasien dengan infeksi
HIV sejak fase awal penyakit. Penelitian di Dallas Amerika Serikat pada tahun
1995 menunjukkan abnormalitas cairan serebrospinal juga umum ditemukan pada
pasien dengan neuropati. Jumlah rerata sel berinti pada cairan serebrospinal
semakin meningkat pada pasien dengan angka CD4 yang semakin menurun. Pola yang
sama juga ditemukan protein, sementara kadar gula semakin menurun dengan
peningkatan angka CD4. Meski demikian tidak ditemukan korelasi bermakna antara
abnormalitas cairan serebrospinal dengan kecepatan hantar saraf34.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan neuropati sensorik HIV (DSP dan ATN/NN) terutama simtomatik
karena sampai saat ini belum ada bukti klinis signifikan terhadap efektivitas
terapi agen-agen regeneratif dalam melawan proses patologis yang mendasari4.
Pertimbangan terpenting dalam terapi DSP adalah sebisa mungkin
mengindentifikasi etiologi nyeri dan memberikan pengobatan yang sesuai. Klinisi
perlu membedakan DSP dengan ATN. ATN lebih sering menimbulkan nyeri dengan
onset mendadak, dan berkembang cepat. Hal ini memberi pengertian yang berharga
untuk diagnosis dan terapi. Peningkatan asam laktat merupakan gambaran yang
jelas membedakan DSP murni dengan ATN/NN6.
Terapi farmakologis DSP terutama ditujukan untuk nyeri, karena untuk gejala
lain terutama numbness tidak memiliki terapi simtomatik khusus. Panduan
terapi yang dianjurkan sesuai dengan The WHO Analgesics Ladder. WHO
merekomendasikan penggunaan nonopioid seperti NSAID untuk nyeri ringan. Meski
demikian perlu diingat bahwa efikasi NSAID terhadap nyeri neuropatik tidaklah
signifikan. Secara umum, analgesik tidak diberikan jika nyeri pada DSP ringan
atau tidak mengganggu kualitas hidup. Nyeri sedang dapat diberikan opioid
seperti kodein, oksikodon, dan hidrokodon. Nyeri berat sebaiknya diterapi
dengan opioid seperti morfin, metadon, levorpenol, hidromorfon, dan fentanil6.
Agen analgetika adjuvan sering diberikan untuk nyeri kronik. Obat-obat ini
dapat diberikan pada setiap stadium sesuai WHO Analgesic Ladder. Analgetika
adjuvan dapat memberi efek analgesik dan perbaikan nyeri yang lebih baik pada
pasien yang sebelumnya telah mendapat obat opioid atau nonopioid. Obat-obat
golongan ini yang sering digunakan termasuk antidepresan dan antikonvulsan35.
Gambar 5 menunjukkan algoritma terapi simtomatik pada neuropati sensorik HIV
dan tabel 2 menunjukkan obat-obat yang banyak digunakan pada nyeri neuropati
sensorik HIV (DSP/ATN/NN).
Terapi
Protektif
recombinant
human Nerve Growth Factor (rhNGF)
Pemberian rhNGF dilatarbelakangi mekanisme degenerasi aksonal length
dependent. NGF berperan penting pada perkembangan dan pematangan sistem
saraf, dan dihasilkan pada serabut saraf yang mengalami kerusakan untuk memicu sprouting
kolateral. Penelitian telah membuktikan rhNGF memperbaiki neuropati
diabetik dan akibat kemoterapi36.
Penelitian acak kontrol plasebo
terhadap efektivitas rhNGF telah dilakukan di Amerika terhadap 270 pasien
dengan neuropati sensorik HIV. Pasien
dibagi ke dalam 3 kelompok, masing-masing mendapatkan plasebo, rhNGF dosis 0,1
μg/kg, dan rhNGF 0,3 μg/kg dua kali seminggu selama 18 minggu. Kedua kelompok
dosis rhNGF menunjukkan perbaikan signifikan untuk rerata nyeri harian dan
maksimum dibanding plasebo (p=0,019). Efek positif juga ditunjukkan untuk assesmen
nyeri global (p=0,001) dan sensitivitas tusukan
(p=0,019). tidak ditemukan adanya perbedaan bermakna pada mood,
penggunaan analgetika, atau densitas serabut saraf epidermal. Tidak ditemukan
perbedaan kadar HIV-RNA. Efek samping yang dilaporkan adalah nyeri di tempat
suntikan dan mialgia berat. Disimpulkan rhNGF aman dan memberikan efek positif terhadap nyeri
neuropatik dan sensitivitas tusukan pada pasien dengan neuropati sensorik HIV37.
Erythropoetin
(EPO)
Erythropoetin (EPO) adalah Growth Factor hematopoetik yang diproduksi di ginjal
sebagai respon terhadap hipoksia. EPO dan reseptor EPO (EPOR) diekspresikan di
otak dan medula spinalis. EPO melindungi neuron susunan saraf pusat dari
kematian akibat berbagai proses, termasuk iskemia dan eksitotoksin. EPOR juga
dapat ditemukan pada DRG dan akson. Pemberian EPO secara invitro menunjukkan
efek pencegahan terjadinya apoptosis dan bersifat neuroprotektif pada kondisi
neuropati. Pemberian EPO dalam konsentrasi picomalor pada kultur neuron DRG
yang telah diberi paparan gp120 dan ddC sebelumnya terbukti mencegah degenerasi
aksonal. Penelitian langsung pada pasien dengan neuropati sensorik HIV belum
ada38.
Tabel 2. Terapi farmakologis nyeri
pada neuropati sensorik HIV
|
Agen
|
Dosis & durasi
|
Hasil
|
Referensi
& Metode
|
|
Amitriptilin
Vs akupunktur
|
Amitriptilin 25-50 mg, Akupuntur 2x/minggu selama 6
minggu, dilanjutkan 1x/minggu selama 8 minggu
|
Tidak berefek
|
Shlay et al.39 (RCT)
|
|
Lidokain gel
|
Gel 5% selama 2 minggu
|
Tidak berefek
|
Dorfman et al.40
|
|
Amitriptilin
vs meksiletin
|
Amitriptilin 25-100mg;
meksiletin 150-300 mg; selama 4 minggu
|
Amitriptilin
lebih baik
|
Kieburtz et al.41
(RCT double blind)
|
|
Lamotrigin
|
25-400 mg/hari, 7 minggu fase eskalasi dosis dan 4 minggu fase maintenance
|
Nyeri membaik
|
Simpson et al.42
|
|
Kapsaisin patch
|
4 minggu
|
Tidak berefek
|
Paice et al.43
|
|
Gabapentin
|
400-2400mg, evaluasi dosis tiap 2 minggu. Follow up
6 minggu
|
Nyeri membaik
|
Hahn et al.44
(RCT double blind)
|
|
Kanabis (mariyuana)
|
Bentuk sigaret, berisi 0,9 mg canabis, 1x/hari selama 5
hari.
|
Nyeri membaik
|
Abrams et al.45
|
Acetyl
L-carnitine (ALCAR)
ALCAR, bentuk ester asetil dari L-carnitine, berperan penting untuk
fungsi normal mitokondria karena berfungsi sebagai donor asetil pada
metabolisme energi tinggi dan reaksi anabolik seperti pada pembentukan membran
fosfolipid. ALCAR mempercepat maturasi kultur neuron serebelum, dan secara
signifikan mengaktivasi NGF dan mencegah hilangnya substansi P dari saraf
perifer. ALCAR membantu proses regenerasi saraf perifer dan bersifat
neuroprotektif in vitro. ALCAR juga memiliki sifat analgesik melalui
modulasi transmisi kolinergik dan glutaminergik. Bentuk nonasetilasi ALCAR (L-carnitine)
memiliki keuntungan imunologis46.
Youle & Osio47 melakukan penelitian pada 90 pasien ATN,
dimana 43 subjek mendapatkan injeksi
intramuskuler ALCAR 500 mg dua kali sehari selama dua minggu dilanjutkan
pemberian oral ALCAR 1000 mg selama 42 hari dan 47 subjek sebagai kontrol
(plasebo). ALCAR mengurangi nyeri secara signifikan (p=0,022) yang diukur
dengan VAS, dan kuesioner nyeri McGill. Perbaikan Total Symptom Score dalam
14 hari lebih baik pada kelompok ALCAR dibanding plasebo. Efek samping berupa
gangguan gastrointestinal, pruritus dan rash terjadi pada kedua kelompok
dalam perbedaan yang tidak signifikan.
Terapi
Nonfarmakologis
Penatalaksanaan pada kasus ringan cukup dengan modifikasi gaya hidup
seperti menghindari berjalan jarak jauh atau berdiri lama. Pendekatan terapi
lain adalah self care strategies termasuk suplemen nutrisi, kompres
hangat, latihan fisik, elevasi ekstremitas, dan penggunaan krim. Terapi ini
bersifat individual dan bukti klinis untuk efektivitas belum ada. Modalitas
terapi komplementer dapat dipertimbangkan diantaranya terapi massage,
refleksiologi, hipnosis, meditasi, dan akupunktur. Terapi ini biasanya
diberikan pada nyeri neuropatik tetapi efektivitasnya masih dipertanyakan6.
Posted by Jimmy FA